SURABAYA – Di era modern ini, topik mengenai kepemimpinan wanita tidak lagi dihindari seperti halnya yang terjadi pada zaman awal hingga pertengahan karena mereka beranggapan bahwa wanita tidak layak menjadi pemimpin. Bahkan di zaman itu, wanita tidak memiliki derajat yang sama dengan laki-laki, mereka terbelenggu oleh tirani perbudakan yang dibentuk oleh budaya patriarki. Termasuk salah satu sarjana islam yang menolak akan kebolehan wanita menjadi seorang pemimpin ialah Abbas Mahmud Al-Aqqad. Menurutnya, adanya perbedaan fisik yang terbilang signifikan antara pria dan wanita menjadikannya, wanita, tidak lolos kualifikasi sebagai pengemban tanggung jawab yang baik.

Isu ini juga diperkeruh oleh mayoritas orang yang menolak kepemimpinan wanita ini dengan dalih sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari salah satunya dalam Kitabul Fitan, bagian pembahasan tentang konflik atau fitnah. Selain diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari, hadits ini juga diriwayatkan dalam Musnad Ahmad bin Hanbal, Sunan At-Tirmidzi, Musnad At-Thabarani, juga Sunan An-Nasai.

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ الْهَيْثَمِ حَدَّثَنَا عَوْفٌ عَنِ الْحَسَنِ عَنْ أَبِى بَكْرَةَ قَالَ لَقَدْ نَفَعَنِى اللَّهُ بِكَلِمَةٍ سَمِعْتُهَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليهوسلم – أَيَّامَ الْجَمَلِ ، بَعْدَ مَا كِدْتُ أَنْ أَلْحَقَ بِأَصْحَابِ الْجَمَلِ فَأُقَاتِلَ مَعَهُمْ قَالَ لَمَّا بَلَغَ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَنَّ أَهْلَ فَارِسَ قَدْ مَلَّكُوا عَلَيْهِمْ بِنْتَ كِسْرَى قَالَ « لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمُ امْرَأَةً » 

Artinya, “Dari Utsman bin Haitsam dari Auf dari Hasan dari Abi Bakrah berkata: ‘Allah memberikan manfaat kepadaku dengan sebuah kalimat yang kudengar dari Rasulullah SAW pada hari menjelang Perang Jamal, setelah aku hampir membenarkan mereka (Ashabul Jamal) dan berperang bersama mereka. Ketika sampai kabar kepada Rasulullah SAW bahwa bangsa Persia mengangkat putri Kisra sebagai pemimpin, beliau bersabda ‘Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada wanita.’’” (HR Al-Bukhari).

Dr. Khoirul Umami yang merupakan dosen UIN Sunan Ampel Surabaya turut mengomentari hadits tersebut yang ia sampaikan pada mahasiswanya di mata perkuliahan Rabu, 2 Juni 2023 bahwasanya hadits ini tidak bisa dipahami secara tekstual. perlu meruntut aspek historis (asbabul wurud) serta kebahasaan. hematnya menurut beliau, standart akan ketidak bolehan ini tidak berlaku mutlak selamanya karena adanya huruf lan nafy berjenis ta’qit. Pelarangan ini memiliki sebab seperti apabila seorang wanita terindikasi tidak memiliki kompetensi yang cukup, maka ia dapat dikenai aturan ini. Secara otomatis hal ini tidak berlaku apabila seorang wanita memiliki kecakapan dalam leadership, maka boleh.

Nasaruddin Umar memberi antitesa terhadap Al-Aqqad. Menurutnya wanita sangat layak dan Islam memberi kesempatan yang sama kepada mereka karena tidak ada satupun dalil dalam Al-Qur’an maupun Hadist yang melarang kaum wanita terjun aktif dalam kancah perpolitikan. Nasaruddin Umar menunjukkan bahwa term khalifah dalam QS. Al- Baqarah [2]: 30 tidak mepreferensikan satu jenis kelamin saja. Oleh karena itu, laki-laki dan wanita mempunyai fungsi yang sama sebagai pemimpin yang akan mempertanggungjawabkannya kepada Allah SWT.

Dikatakan pada ayat lain, yakni QS At-Taubah: 71

وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَـٰتُ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِیَاۤءُ بَعۡضࣲۚ یَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَیَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَیُقِیمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَیُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَیُطِیعُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥۤۚ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ سَیَرۡحَمُهُمُ ٱللَّهُۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِیزٌ حَكِیمࣱ

“Orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) makruf dan mencegah (berbuat) mungkar, menegakkan salat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

Dalam surah At-Taubah: 71 ini dijelaskan bahwa seorang perempuan dapat menjadi awliyā` bagi lelaki. Hal ini berbeda dengan kebanyakan ulama klasik yang memaknai kata awliya’ hanya sebatas penolong. Prof. Quraish mengartikan kata awliyā` dengan pemimpin, pelindung dan penolong, jadi menurutnya dari kalangan pria maupun wanita haruslah saling menjadi pelindung, pembela diantara satu dan lainnya. Selaku mukmin ia membela mukmin lainnya karena hubungan agama. Wanita pun selaku mukminah turut membela saudara-saudaranya dari kalangan laki-laki mukmin karena hubungan seagama sesuai dengan fitrah kewanitaannya.

Dalam Al-Qur’an tidak ada satupun ayat yang membatasi wanita untuk menjadi seorang pemimpin. Bahkan, Islam memberikan perhatian serta dukungan terhadap wanita untuk berkarir. Beberapa wanita, terbukti dapat memimpin bangsanya dengan sukses gemilang. Pada masa sebelum Islam, dikenal Ratu Balqis, penguasi negeri Saba seperti yang diinformasikan oleh al-Qur’an. Indira Gandi, Margaret Tatcher, Srimavo Bandaranaeke, Benazir Butho, Syeikh Hasina Zia merupakan contoh dari beberapa pemimpin wanita yang sukses di masa modern.

Artikel ini di tulis Oleh : Ahmad Khuluqil A’la dan Ayu Nudia Alfi (Mahasiswa IAT Semester 6, UIN Sunan Ampel Surabaya) dan Penerima Beasiswa Jombang Prestasi BAZNAS Jombang Angkatan 1

Sumber gambar Ilustrasi : Universitas Muhammadiyag Metro

Bagikan ini

Leave a Comment